Langsung ke konten utama

A MUG OF TEA

Write to sharing


MEMINUM TEH

 

Aku duduk di depan jendela dengan secangkir teh tawar yang dibuatkan Ibu. Kupandangi tanaman-tanaman di halaman yang terlihat masih basah karena embun. Udara masih sangat segar dan begitu merilekskan paru-paru. Rasanya aku ingin keluar untuk berjemur barang sejenak di beranda. Namun, niat itu kuurungkan karena aku malas kepanasan. Biarkan tenang di sini saja. Duduk dan menyesap teh sedikit demi sedikit. Melamun, tidak melakukan apa pun untuk mengistirahatkan otakku yang selalu memikirkan apa pun. Kuraih HP-ku dan mencolokkan earphone di telingaku. Ada instrumental dari Beethoven yang berputar. Aku terpejam. Pagi yang sungguh indah.

 Setelah sekitar sepuluh menit doing nothing, aku mengambil novel Max Havelaar-nya Multatuli. Ini akan menjadi pembacaan ulangku yang ketiga, tapi aku masih merasa tidak bosan. Multatuli membawaku ke masa kolonial yang penuh dengan tipu muslihat dan ketidakadilan. Bukunya membuatku bersyukur bahwa pendudukan Hindia Belanda dan segala bentuk penjajahan di tanah Nusantara ini sudah berakhir. Bangsa ini sudah merdeka, ah ya meski belum mencapai kedamaian karena banyak sekali kriminalitas yang masih terjadi atau bahkan korupsi dan suap di pemerintahan?

Ketika selesai membaca kisah Saidjah dan Adinda dalam buku Max Havelaar itu, aku menutup dan meletakkannya kembali di atas meja. Beberapa menit hatiku masih dalam emosi karena tulisannya Multatuli. Ya Tuhan, baru saja habis doing nothing, pikiranku sudah kembali risau. Lebih baik kualihkan saja perhatianku. Dan kutatap teh yang sudah dingin dan tinggal seperempat cangkir. Lalu, muncul pertanyaan tentang sejarah perjalanan teh. Bagaimana, ya?

Teh adalah minuman favoritku. Apalagi kalau disajikan dengan keadaan sangat panas dengan asap mengepul dan tawar—aku tidak suka memakai gula karena rasa murni dari teh akan berubah. Aku juga sering mengadakan pesta teh kecil-kecilan dengan sahabat-sahabatku. Biasanya kami melakukannya di malam hari di balkon kamar kos. Sambil menatap langit malam di Banyuwangi yang masih bening dan penuh bintang. Malam berbintang seketika mengingatkanku pada lukisan Starry Night-nya Van Gogh. Lukisan yang pernah dihargai senilai 1 triliun. Dulu, aku pernah berpikir bahwa untuk apa sih terkagum dengan lukisan seorang seniman yang (maaf) gila? Tetapi, kupikir lagi kalau sesungguhnya Van Gogh melukis Starry Night-nya dengan teriakan-teriakan emosi yang ada dalam jiwanya. Dengan imajinasi yang hidup di dalam pikirannya. Lukisan yang penuh makna dengan keunikannya dan keunikan pelukisnya.

Kembali lagi pada teh. Ketika aku menyukai sesuatu, aku seringkali mencari cerita tentang sesuatu yang kusukai tersebut. Entah latar belakang di masalalunya, cerita-cerita dalam perjalanannya, dan sebagainya. Hal ini mungkin terkesan ribet dan untuk apa gitu. Tetapi, ini cukup menambah wawasan, sekaligus menambah rasa cinta kita terhadap sesuatu itu. Kayak.. ketika kita mengetahui perjalanannya, kita jadi semakin merasa lekat dengan sesuatu tersebut. Aku ambil saja sebagai contoh tentang seorang K-Popers yang menyukai seorang Idol. Dia akan mencari tahu masalalu dari idolanya, atau keseharian dari idolanya itu. Nah, sekarang aku akan mencari tahu tentang teh.

Selagi berkelana di hutan mencari biji-bijian dan tumbuhan layak pangan, seorang petani bernama Shennong secara tidak sengaja meracuni dirinya sendiri sebanyak 72 kali. Namun, sebelum racun itu menghabisi nyawanya, sehelai daun melayang ke mulutnya. Ia mengunyahnya dan ia pun hidup kembali. Seperti itulah teh akhirnya ditemukan. Setidaknya, demikianlah kata legenda kuno.

Teh tak mampu menyembuhkan racun, namun kisah Shennong, pelopor pertanian Tiongkok yang mistis imi, menyorot pentingnya teh bagi Tiongkok kuno. Bukti arkeologi berkata teh pertama kali dibudidayakan di tiongkok sejak 6.000 tahun yang lalu, atau 1.500 sebelum firaun mendirikan Piramida Agung Giza. Tanaman teh Tiongkok zaman itu sama jenisnya dengan yang sekarang ditanam di seluruh dunia, namun dahulu dikonsumsi dengan cara yang sangat berbeda. Teh dimakan layaknya sayuran atau dimasak dengan bubur biji-bijian. Teh beralih dari makanan menjadi minuman 1.500 tahun yang lalu saat orang-orang sadar bahwa kombinasi panas dan uap bisa menciptakan berbagai rasa yang kompleks dari dedaunan tersebut.

Setelah ratusan tahun mengubah cara penyuguhan, sekarang umumnya teh dipanaskan, dikemas dalam bentuk padat, ditumbuk menjadi bubuk, dicampur dengan air panas, dan dibuat menjadi minuman yang dijuluki muo cha, atau matcha. Matcha menjadi sangat populer dan terciptalah budaya teh Tiongkok yang unik. Teh menjadi subjek buku dan puisi, minuman favorit para raja, serta media bagi para seniman. Mereka melukis gambar-gambar menakjubkan di buih teh, seperti seni espreso yang kita temui di kedai kopi zaman sekarang.

Pada abad ke-9, Dinasti Tang, tanaman teh dibawa ke Jepang untuk pertama kalinya oleh seorang rahib. Orang Jepang kemudian mengembangkan ritual teh khas Jepang, sehingga terciptalah upacara minum teh Jepang. Dan pada abad ke-14, Dinasti Ming, sang raja Tiongkok mengubah standar dari teh yang dipres menjadi teh daun. Saat itu, Tiongkok masih punya monopoli penuh atas pohon teh di dunia, dan teh pun menjadi salah satu dari tiga barang ekspor Tiongkok terpenting, di samping tembikar dan sutra. Tiongkok pun memiliki kekuatan dan pengaruh ekonomi yang besar seiring dengan penyebaran kebiasaan minum teh di dunia. Penyebaran itu benar-benar dimulai sekitar awal tahun 1600-an saat pedagang Belanda membawa teh ke Eropa dalam jumlah yang besar. Ratu Catherin Braganza, seorang wanita bangsawan dari Portugal, memopulerkan teh di kalangan aristokrat Inggris ketika beliau menikahi Raja Charles II pada tahun 1661. Saat itu, Britania Raya berupaya melebarkan pengaruh koloninya serta menjadi kekuatan baru yang menguasai dunia. Seiring berkembangnya Britania Raya, minat terhadap teh pun menyebar luas.

Pada tahun 1700, teh di Eropa dijual 10 kali lipat lebih mahal dari kopi dan teh masih hanya ditanam di Tiongkok. Bisnis teh sangat menguntungkan, sehingga kapal kliper, kapal layar tercepat di dunia, diciptakan atas ketatnya persaingan para sekutu dagang Barat. Semua berlomba membawa teh ke Eropa terlebih dahulu demi memaksimalkan laba.

Awalnya, Inggris membayar teh Tiongkok dengan perak. Saat perak dirasa terlalu mahal, mereka menawarkan untuk menukar teh dengan bahan lain, opium. Opium menyebabkan masalah kesehatan di Tiongkok karena orang-orang menjadi kecanduan. Pada tahun 1839, seorang pejabat Tiongkok memerintahkan bawahannya untuk memusnahkan masal kiriman opium Inggris sebagai perlawanan terhadap pengaruh Inggris atas Tiongkok. Aksi ini mencetus Perang Candu Pertama antara kedua negara. Terjadilah pertempuran di sepanjang pesisir Tiongkok hingga tahun 1842, ketika Dinasti Qing kalah, menyerahkan pelabuhan Hongkong kepada Inggris, dan melanjutkan perdagangan dalam situasi yang merugikan. Perang itu melemahkan kedudukan Tiongkok di dunia selama seabad lebih.

Perusahaan Hindia Timur Britania atau EIC pun ingin menanam teh sendiri dan mengendaliukan pasar lebih jauh. Ahli botami Robert Fortune ditugaskan untuk mencuri teh dari Tiongkok dalam sebuah operasi rahasia. Ia menyamar dan menempuh perjalanan yang berbahaya melewati daerah gunung teh Tiongkok, dan menyelundupkan pohon teh serta pekerja teh berpengalaman ke Darjeeling, India. Dari sana, tanaman teh menyebar lebih jauh, mempercepat pertumbuhan teh sebagai komoditas sehari-hari.

Hari ini, teh adalah minuman kedua yang paling banyak dikonsumsi setelah air, mulai teh Rize Turki yang manis, hingga teh mentega Tibet yang asin, ada banyak cara menyuguhkan minuman ini, sebanyak jumlah budaya di dunia ini.

Kisah perjalanan teh yang menarik ini aku dapatkan di vidio Ted-Education yang disampaikan oleh Shunan Teng. Wah, sebelumnya aku Cuma tahu tentang perkebunan teh yang banyak terdapat di Jawa Barat, asal teh dari Cina, dan Boston Tea Party pada saat revolusi Amerika.

Sambil memandang kaktus-kaktusku di halaman depan yang begitu menggemaskan, kusesap tehku hingga habis. Oh, teh. Kau terlihat begitu sepele. Cuma minuman berwarna kecoklatan yang berbau khas. Tetapi, perjalananmu cukup panjang untuk menjadi minuman umat sedunia seperti sekarang ini.

Teh saja sangat indah kisahnya. Lalu bagaimana dengan kisahku? Bagaimana dengan kisah “kita”? Hm...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

DEEPTALK: MENJADI BEGO

IT'S OKAY TO DOING NOTHING

Write to self-healing
IT’S OKAY TO DO NOTHING

I want to be productive, and I think all of us want to be like this. We are always won’t our time will be wasted by something worthless and useless. We’ll feel guilty if we just doing nothing. Just laying down, scrolling social media, imagine something fictional, and others. We all want to do everything (*read EVERYTHING) because we expecting that after doing these or those, our time will be so useful and happiness come then. And yet, we didn’t relize if activities that we wan’t to do, will never be ending. There are more and more activities! Are we should to do all of them?(Baru satu paragraf nulis pakai Bahasa Inggris, udah terasa capek saja. Harus mikir dua kali, bro. So, let’s we continue with Indonesian! (Exactly, campur bahasa))Aku suka banget baca-baca motivation quotes baik dari buku, Pinterest, Twitter maupun Instagram. Baik motivasi biasa maupun motivasi keagamaan. It helps me to improving my self and be better day after day. Motiv…

BAHASAN RUMIT

write to discuss
TENTANG COWOK
Suatu hari aku bertemu dengan sahabat lamaku dan berbincang-bincang tentang kehidupan masing-masing selama tidak bertemu. Tak lama kemudian, pembahasan kami berujung ke tema tentang cowok. Entah itu crush, pacar, atau pun mantan. Seringkali ketika sahabatku tersebut curhat dan cerita segala macam tentang kehidupan percintaannya, aku hanya menjadi pendengar yang baik. Aku juga bingung bagaimana mau menanggapi. Ya sudah, aku cuma iya iya saja, kadang juga bertanya balik. Maunya sih aku juga membagikan ceritaku, tapi aku memilih untuk diam saja. Memangnya, mau bercerita bagaimana?Selama ini, aku masih memilih untuk menomor sekiankan urusan cinta-mencintai dan berfokus pada belajar, belajar, dan belajar. I just want to enrich my knowledge, not my love stories. Ada yang lebih penting dari urusan cinta monyet. Ada yang lebih penting untuk diperjuangkan daripada itu.Seringkali aku juga merasa iri dengan ke-uwu-an orang lain dan bagaimana mereka menjalin relations…