Langsung ke konten utama

SENDIRIAN


Sumber gambarhttps://pin.it/3oDcN5Y

Hari ini, aku balik ke kos setelah hampir 5 bulan di rumah karena Covid-19. Aku ada urusan di sekolah selama 6 hari dan daripada ayahku capek buat ngantar jemput Srono-Genteng dan aku ruwet berkomutasi, mending aku tetap di kos aja. Lagipula aku juga bosan di rumah. Meskipun di rumah lebih asik dan ramai, aku butuh keheningan sejenak. Aku perlu sendirian dan take a space dari keluargaku. Karena, kadang pas kita lagi sedih, lagi marah, terus di sekitar kita ada keluarga kita, jadinya kita harus nahan dan berusaha tampil baik-baik saja. Kadang, kalau kita enggak bisa nahan, keluarga kita yang malah bisa kena imbas. 

Sebelumnya, aku kira di kos ada banyak teman-teman. Soalnya, ini minggu-minggu MPLS dan Tahun Ajaran Baru. Seharusnya banyak anak osis yang menginap karena mereka sibuk ngurus gitu-gituan, kan. Tapi ternyata, zonk. Ketika aku kembali ke kos, yang ada semua anak OSIS mau tolak pulang. Tugas mereka sudah selesai semua. Habis ini proses pembelajaran juga dengan daring. Jadi, ketika anak osis pulang, ya udah gak ada siapa-siapa lagi yang akan ke kos. Kecuali anak-anak les yang kunjung ke kos sebelum les, tapi pas sudah les mereka pulang lagi.

Tantangannya bukan cuma nggak ada teman dan aku akan merasa kesepian. Tapi, ketakutan. Honestly, aku takut sama hantu. Takutnya sih ya sama Allah lah, tapi sama hantu itu ngeri-ngeri serem gimana gitu. Makanya, aku paling anti sama film-film horor, atau cerita-cerita horor. Kebawa suasananya bisa berhari-hari, cui. Apalagi dulu pas tahun pertama aku kos, aku ada kejadian di mana tiap hari ada aja gangguan suara dari kamar kos sebelah yang masih kosong. Teman-temanku juga ada yang didatangi sosok penampakan. Pokok serem banget, dan malam ini, aku sendirian.

Daripada aku bingung mau ngapain dan terus terngiang-ngiang sama ketakutanku, mending aku nulis aja sambil cerita. 

Sebenarnya, aku anak yang pemberani banget dulu. Pas kecil, aku sering lihat penampakan, sampai ortu-ku curiga kalau aku ini anak indigo. Tapi, nyatanya, setelah aku mulai usia belasan tahun dan mulai pubertas, udah nggak ada lagi penampakan segala macem. Aku sampai berpikir kalau aku sudah memiliki dosa setumpuk, jadi mata batinku ketutup. Lalu, karena udah mulai bosan karena hidupku sepi tantangan, aku ingin sekali indra keenamku sensitif lagi. Jadi, aku mulai baca-baca surat di Alquran yang katanya bisa bikin indra keenamku kebuka. Yah, tapi gagal. Allah Mahatahu lah, sama makhluknya yang satu ini, yang cuma mau indra keenamnya kebuka buat main-main dan seneng-seneng doang, bukan untuk yang bermanfaat. Singkat cerita, aku udah mulai biasa aja, nggak nganeh ingin bisa lihat makhluk-makhluk tak kasat mata. Terus, cerita kok bisa aku jadi penakut gini, kayaknya ya bawaan dari film sama buku horor yang kubaca, deh. Ah, jadi bersyukur doaku dulu biar indra keenamku sama Allah, nggak dikabulin.

Tapi, bukan sepenuhnya aku enggak pernah lihat hal-hal begituan lagi. Pas SMP, aku sering banget merhatiin beberapa tempat yang agak hening gitu. Enggak tahu kenapa mataku tertuju ke situ, lalu aku jadi melamun (nggak sampai kosong juga pikiranku pas lagi melamun, cuma kayak fokus aja mataku tertuju ke situ meski gak ada apa-apa). Kadang, pas naik kendaraan, aku sampe merhatiin sampe ke belakang gitu arah mataku. Sampai benar-benar kelewat jauh, baru perhatianku teralihkan. Untungnya, kebiasaanku ini udah hilang sejak dua tahun lalu. Sekarang mah, udah nggak berani lagi. Takut, cui.

Btw, kenapa pas aku lagi sendirian gini yang kuceritain tentang ginian, sih? Masa bodoh, lanjut aja.

Baru-baru ini di rumahku ada kejadian. Pas Ayah sama Bundaku lagi keluar dan aku cuma berdua bareng kucing, aku pergi ke dapur. Sebenarnya ada nenek, tapi nenek udah tidur. Dan bagian dapur nenek sama dapur rumahku itu gandeng dan nembus, kan. Terus di dapurnya nenek, di langit-langitnya digantungin kalau ga salah ada 3 cangkul milik almarhum kakek. Nah, karena digantung terbalik, otomatis kayak kaki yang menggantung ke bawah. Apalagi saat itu lampu dapur nenek udah dimatikan. Terus pas aku mau ngambil minum, lahkok cangkul itu goyang-goyang. Spontan aku langsung lari ke beranda buat nenangin detak jantung yang super dag dig dug. Aku juga masih syok dan mikir itu tadi apaan? 

Kejadian yang nggak kalah seram adalah ketika aku di kos dan insomniaku kambuh. Aku nggak bisa tidur sama sekali karena waktu itu aku habis lembur ngerjakan tugas sekolah. Ngecek hp, ngga ada notif. Yakali, kan pasti udah pada tidur, udah tengah malam juga. Mau ngungsi ke kamar kos tetangga, seram juga harus turunin anak tangga yang gelap. Jadi, ya udah, aku diam aja sambil berkedip-kedip ngelihatin langit-langit. Nah, pas itu aku lagi keinget sama cerita adik kelasku di klub sejarah tadi sore. Katanya dia indigo dan menurut indranya, di depan sekolah ada pocica, gengs. POCICA. Aku paling ngeri sama jenis yang satu ini, soalnya kan nanti pas udah mati bentukanku ya dikafani kayak gitu juga. Pokok ngeri banget. Nah adik kelas itu bilang di depan sekolah ada pocica kan, ya, dan kosku itu ada di depan sekolah pas. Deket banget yaAllah, super kepikiran, ngeri banget. 

Terus di bawah pintu, itu ada celah sempit kan ya, antara pintu dengan lantai, lah pas aku habis mengingat si pocica tadi, itu kayak ada bayangan lewat bolak balik gitu di depan pintuku. Kentara kan, kalau dari celah pintu itu. Aku mana berani buat ngecek apa yang terjadi dengan membuka pintu. Ya udah aku diem aja berusaha menutup mata, sampai ketiduran sendiri.

Nah, sekarang nih ya, aku kan lagi sendiri, masih nggak bisa tidur dan udah tengah malam, aku denger ada suara kayak ada orang gitu di bawah. Kayak bersih-bersih kamar. Terus kambing-kambing milik orang rumah sebelah pada ramai mbek-mbek saling bersahutan. Fix, ini lagi ada apa-apa karena katanya, hewan lebih peka daripada manusia. Terus aku harus ngapain, yaAllah? 

Guys, aku mau berhenti nulis ginian deh. Aku mau nonton YT aja. Bye. Serem.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

DEEPTALK: MENJADI BEGO

IT'S OKAY TO DOING NOTHING

Write to self-healing
IT’S OKAY TO DO NOTHING

I want to be productive, and I think all of us want to be like this. We are always won’t our time will be wasted by something worthless and useless. We’ll feel guilty if we just doing nothing. Just laying down, scrolling social media, imagine something fictional, and others. We all want to do everything (*read EVERYTHING) because we expecting that after doing these or those, our time will be so useful and happiness come then. And yet, we didn’t relize if activities that we wan’t to do, will never be ending. There are more and more activities! Are we should to do all of them?(Baru satu paragraf nulis pakai Bahasa Inggris, udah terasa capek saja. Harus mikir dua kali, bro. So, let’s we continue with Indonesian! (Exactly, campur bahasa))Aku suka banget baca-baca motivation quotes baik dari buku, Pinterest, Twitter maupun Instagram. Baik motivasi biasa maupun motivasi keagamaan. It helps me to improving my self and be better day after day. Motiv…

BAHASAN RUMIT

write to discuss
TENTANG COWOK
Suatu hari aku bertemu dengan sahabat lamaku dan berbincang-bincang tentang kehidupan masing-masing selama tidak bertemu. Tak lama kemudian, pembahasan kami berujung ke tema tentang cowok. Entah itu crush, pacar, atau pun mantan. Seringkali ketika sahabatku tersebut curhat dan cerita segala macam tentang kehidupan percintaannya, aku hanya menjadi pendengar yang baik. Aku juga bingung bagaimana mau menanggapi. Ya sudah, aku cuma iya iya saja, kadang juga bertanya balik. Maunya sih aku juga membagikan ceritaku, tapi aku memilih untuk diam saja. Memangnya, mau bercerita bagaimana?Selama ini, aku masih memilih untuk menomor sekiankan urusan cinta-mencintai dan berfokus pada belajar, belajar, dan belajar. I just want to enrich my knowledge, not my love stories. Ada yang lebih penting dari urusan cinta monyet. Ada yang lebih penting untuk diperjuangkan daripada itu.Seringkali aku juga merasa iri dengan ke-uwu-an orang lain dan bagaimana mereka menjalin relations…